Selasa, 29 September 2015

Pengungkapan

"Pulang aja yuk Na? hape terus di maenin, mau ngehack pemerintahan Australi ya?" protesku agak melotot
"bentar Lung! lagi war"
"huu, COC mulu"
"biarin, dari pada kamu ngrokok mulu. gak sehat tauk !"
"mlototin hape mulu juga gak sehat Na, bisa bikin mata minus 20 dioptri, itu mata minus yang paling parah. Terus lagi bikin temen emosi"

Liana tak mempedulikanku dan tetap fokus ke hapenya, ucapanku tadi benar - benar terbukti, karena tidak dipedulikannya aku jadi menahan emosi. Ingin rasanya aku tinggal dia pulang ke rumah dan dia sendirian di cafe, tapi itu aku urungkan setelah ingat kalau tadi berangkat ke cafe naik motornya.

"Udah maennya?"
”udah Alung, laper ni" ucap Liana sambil menancapkan garpu kecil ke roti bakar lalu memakannya.

Di malam itu kami berdua sedang berada disalah satu cafe di Jalan Rajekwesi, ini tempat nongkrong favorit kami. Perempuan yang duduk dihadapanku dengan jilbab abu - abu adalah Liana Amerta, teman sesama penyiar radio. Kami sering mengudara bersama membawakan acara curhat anak remaja, acara yang memberi solusi asmara dengan sudut pandang cewek dan cowok melalui penyiarnya. Meski tanpa Mama Dedeh, acara ini cukup dapat respon dari pendengar untuk curhat.

"Na, inget curhatan cowok yang namanya Jatmiko kemarin malem?" tanyaku sambil menyeruput kopi ijo yang tinggal setengah.
"Oh iya, inget banget yang itu Lung"
"kenapa? curhatannya berkesan ya?"
"enggak, Jatmiko itu nama bapakku Haha"
"Haha"

Aku suka melihat tawa Liana, diam - diam aku punya rasa padanya. Sudah lama perasaanku ini kusimpan dan tidak ku ungkapkan karena takut mengganggu pekerjaan dan juga persahabatan kami.

Akupun takut Liana menjauhiku dan menjadi canggung ketika bertemu. Tapi, malam ini aku putuskan mengungkapkannya. Aku sudah siapkan tulisan yang akan kuberi pada Liana, berisi kata - kata indah pengungkapan cinta, hasil referensiku dari mendengarkan lagu Sheila on7, Jikustik, dan OM Sagita.

"Curhatan Jatmiko kemarin dia bilang takut ngungkapin perasaannya ke cewek gara - gara mereka sahabatan, menurutmu gimana Na?"
"cewek ama cowok emang gak bisa sahabatan Lung"
"maksutnya?"
"iya, kalau cewek ama cowok sahabatan pasti salah satu diantara mereka ada yang jatuh cinta"

Teori Liana dalam pikirku ada benarnya, aku dan Liana bersahabat lama dan aku yang jatuh cinta.

Liana melanjutkan "kalau tentang Jatmiko yang gak berani ngutarain itu Lung, emang mau sampai kapan dia tahan maksa hati ngubur perasaannya? sementara sang gadis selalu terbayang"
"jadi harus diutarakan Na? gak dibaratkan diselatankan ditimurkan ?"
"gak lucu Lung"
"haha"

Aku mengambil selembar kertas disaku kanan kemejaku. Kertas itu berisi ungkapan perasaan cinta bertuliskan nama lengkap Liana pada akhir paragrafnya, dan tetep kupegang di tangan kananku.

"Aku mau nembak cewek Na" ucapku serius
"o ya? siapa Lung? anak mana?"
"Ada, tapi aku bingung mau ngucapinnya gimana. Kalau aku buat syair diatas kertas kayak gini gimana Na?"

Aku memberikan selembar kertas itu ke Liana dengan berdebar - debar. Liana menatap lembaran itu dengan perlahan, aku terdiam dihadapannya dan tak sabar menunggu jawaban. Liana lalu memandang ke arahku dengan mimik wajah bingung.

"Gimana Na?"

Liana menatapku dan berkata

"Lung, mataku minus. 20 dioptri"