Minggu, 06 Desember 2015

Bojonegoro, Dodit effect dan Komedi yang semakin "mainsetrum"

Tepat setahun yang lalu, komunitas stand Up Comedy Bojonegoro menyelenggarakan sebuah event yang cukup besar, bahkan banyak orang yang berpendapat bahwa acara ini menjadi hiburan besar di tahun itu melebihi hari jadi kota itu sendiri (hahaha). Tapi anehnya, acara yang cukup besar itu diselenggarakan pemuda yang mayoritas masih bersekolah, benar, dari semua panitia hanya ada dua orang yang sudah bekerja. Acara sebesar itu diselenggarakan tanpa sponsor, saya ulangi ya..    tanpa sponsor!  kurang matoh pye jal ? Kurang lebih 800 penonton memadati gedung Tri Darma Bojonegoro.  Pertunjukan yang berlangsung kurang lebih tiga jam tersebut berlangsung dengan luar biasa, meski diawal acara ada keterlambatan Bintang tamu Dodit mulyanto dikarenakan delay pesawat. Komika yang saat itu namanya tengah naik daun tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi penonton untuk menghadiri event ulang tahun komunitas stand up comedy Bojonegoro. Tak hanya bintang tamu, komika lokal yang saat itu menjadi pembuka juga tak kalah hebat dalam membawakan materi-materinya, sebuah potensi besar yang dimiliki oleh pemuda-pemuda di kota tersebut.

Sebuah pertunjukan seni yang luar biasa dan tidak murahan membuat banyak orang menginginkannya kembali. Hari ini, tepat setahun yang lalu, ternyata masih banyak orang yang mengingatnya. Ya, melihat acara SUN (stand up nite) yang merupakan acara tahunan setiap komunitas di Indonesia adalah hal yang berbeda, bagi anda yang pernah melihat acara “Stand up nite” di kota masing-masing bisa merasakan perbedaan antara melihata di televisi maupun secara langsung. Kita tentu tahu, akhir-akhir ini banyaknya acara stand up comedy yang seakan dipaksakan untuk bosan, dimana acara tersebut bahkan dimasukan ke dalam acara-acara yang sebenarnya tidak untuk stand up comedy. Fenomena “latah” dalam industri hiburan di tanah air kembali terjadi, namun sayangnya, hal itu melanda sebuah hiburan yang sebenarnya sangat berkelas seperti “stand up comedy”. Sedikit kembali ke belakang, komedi juga pernah berada pada titik “mainsetrum” dari waktu ke waktu, mulai Srimulat sampai OVJ, akan tetapi stand up adalah seni yang berbeda, pertunjukan ini lebih memerlukan banyak waktu untuk melakukannya, bahkan seorang komika propesional memerlukan waktu beberapa minggu untuk materi yang hanya beberapa menit tersebut. Namun, jika stand up comedy hanya dilakukan ala kadarnya, maka materi yang dihasilkan akan semakin menurun, meskipun banyak yang tertawa akan tetapi selera humor semakin turun hanya untuk materi-materi yang jauh dari ciri khas stand up comedy yaitu hiburan cerdas. Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika acara stand up comedy di televisi banyak sekali dilakukan editing yang tentunya melanggar aturan tidak tertulis seorang komika. Mulai dari ketawa penonton sampai materi yang diubah polanya.

Hal inilah yang menjadi ketakutan bagi para pegiat seni stand up comedy, salah satunya yang disampaikan oleh mantan presiden stand up Indonesia yaitu Sammy, keresahan akan banyaknya fenomena stand up comedy di Indonesia terutama di Televisi, seperti bom waktu yang akan mematikan umur stand up comedy itu sendiri.

Demikianlah sedikit catatan saya tentang fenomena stand up comedy yang akhir-akhir melanda masyarakat kita, sebenarnya banyak lagi yang ingin saya sampaikan, akan tetapi saya takut tulisan yang terlalu banyak akan membuat anda malas membacanya. saya sendiri yang kurang lebih lima tahun menjadi penonton dan dua tahun menggeluti dunia standup ini berharap bahwa seni pertunjukan ini akan terus ada. Entah menjadi mainsetrum ataupun tidak, hiburan ini adalah hal yang menarik bagi saya. Dan akan terus saya perjuangkan. Merdeka !

Dan tentu bukan tanpa alasan saya menulis kata “mainsetrum” pada judul diatas yang sebenarnya dari kata “mainstream”, karena fenomena latah di Indonesia sudah berada pada titik akut, seperti setrum yang bukan hanya cepat merambat, tapi juga mematikan !

@DNAlfiansyah